Brownies

Posted: March 13, 2014 in Diary, Tugas Kampus

Mel adalah perempuan masa kini. Cantik, cerdas, kosmopolitan. Seorang Creative Director, sebuah perusahaan agen iklan internasional yang berpusat di Jakarta. Kariernya menanjak, menukik tinggi seperti pesawat yang selalu melesat membawanya dari satu negeri ke negeri lain.

Namun jauh dari itu, Mel merasa hidupnya belum sempurna. Belum melaksanakan cita-cita hidup bahagia dengan Joe, lelaki yang sudah menjadi tunangannya. Perempuan berambut panjang, berwajah bulat lucu itu memang sungguh cantik, dan memiliki aura cinta pada Joe.

Mel membawa kado berisi Brownies, khusus dari Singapura untuk Joe di hari ulang tahunnya. Tahun lalu mereka merayakan itu di restoran, hampir tiap tahun sebenarnya demikian. Apalagi ulang tahun ke depan, bisa jadi Joe sudah menjadi suaminya. Mel merenung, seharusnya tahun ini lebih istimewa. Lalu, Ia pun bergegas menuju apartemen Joe untuk membuat brownies bersama, kue favorite Mel. Namun, alangkah terkejutnya Mel saat memergoki Joe sedang telanjang bulat di dalam bathtub dengan wanita lain. Jelas, hatinya hancur. Api asmaranya dengan Joe mendadak padam tak menyala sedikit pun.

Mel, I really love you, Baby. That was… only… Cuma tubuh, Mel! Tidak ada perasaan. Perasaanku hanya untukmu. All my feelings…”

“Feelings?”

Mel menunjukkan jari kirinya dan melepaskan cincin berlian dua karat yang diberikan Joe tiga bulan lalu.

Kini, Mel sangat benci kepada Joe. Hari-harinya pun menjadi tidak berwarna lagi. Namun, itulah hidup. Mel harus bisa melupakan sosok yang dulu Ia cintai.  Ia harus bisa pindah dari satu hati ke hati yang lain. Dimana Mel dapat menemukan sebuah arti kenyamanan dan kebahagian.

Mel banyak mencurahkan aktifitasnya di ruang masak. Untuk mencoba membuat sendiri Brownies favorite-nya. Menurutnya, cita rasa dari brownies itu tergantung dari apa yang sedang dirasakan oleh pembuatnya. Yap, karena Mel masih belum bisa move on dari Joe, tentu hasil Brownies buatannya sangat pahit. Hambar….

Tanpa patah semangat, Mel mencari resep terbaik untuk membuat brownies yang lezat. Didi, teman baiknya menyarankan ia untuk belajar membuat kue bantet itu dengan Are, adik sepupunya. Are ternyata seorang pria yang jago dalam memasak. Dia selalu meluangkan rutinitas kantornya untuk sekedar mencoba resep apa saja yang belum dicobanya.

Setelah keduanya berkenalan, Are mulai memberikan respons yang baik terhadap Mel, begitupun sebaliknya. Are yang mengetahui latar belakang percintaan Mel yang suram, selalu memberikan dirinya motivasi untuk menjadi wanita yang lebih mencintai dirinya sendiri, sebelum membagi rasa sayang itu dengan orang lain.

Mel pun mulai sadar, ternyata sosok Are sangat peduli dan perhatian dengannya. Ia pun dapat dengan mudah melupakan Joe, tunangan yang telah menghianatinya. Kini, mereka pun telah resmi menikah. Sederhananya, mereka telah dipertemukan dengan satu masakan yang sama, Brownies. Biarkan rasa ini yang memilih…

“Jadi, buatlah Brownies untuk dinikmati orang lain. Itu saja kuncinya. Itu resepnya.” – Are
“Masak saja apa adanya, biarkan Brownies ungkapin sendiri rasanya…” – Are

Tag Line: Manusia dan cinta kasih, Manusia dan penderitaan, Manusia dan harapan.

(Sumber: Paragraph 1-4 dikutip dari Novel Brownies, Karya Fira Basuki)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s